Mengapa Mobil Sekarang Gampang Penyok Saat Tabrakan?

“Mobil zaman sekarang mah kaleng semua!” kata supir taksi yang saya tumpangi saat itu. “Tabrakan sedikit, ringsek bodinya.” Ia melanjutkan pandangannya dengan membandingkan mobil era sekarang dengan mobil zaman dulu. Baginya, mobil zaman dulu tangguh karena dirakit oleh pabrikan Eropa, berbeda dengan mobil sekarang yang kebanyakan berasal dari Jepang sehingga kekuatannya bodinya berada di bawah mobil-mobil Eropa.

Pernyataan Pak Supir tentu saja membuat kita berpikir sekaligus bergumam, “Betul juga.” Sekilas, pernyataan ini memang masuk akal. Tapi apakah benar bahwa mobil Jepang itu berkualitas buruk karena mudah ringsek sementara mobil Eropa memiliki bodi yang lebih kuat dan kokoh sehingga dianggap berkualitas lebih baik?

Sengaja Dibuat Lemah

Sebenarnya, mobil zaman sekarang memang dapat dikatakan mudah ringsek. Faktanya, hal itu sengaja dilakukan oleh mereka. Ada alasan mengapa pabrikan-pabrikan otomotif melakukan hal tersebut.

Alasan pertama, bodi mobil yang mudah ringsek memiliki fungsi tersendiri kita terjadi tabrakan. Betul, fungsinya adalah untuk menjadi daerah redam antara kamu dengan benda yang ditabrak (bisa mobil, bisa pohon, bisa tiang listrik seperti yang terjadi pada, ehm, “Papah”). Dalam dunia manufaktur otomotif, hal ini dikenal sebagai crumple zone.

Apa itu crumple zone?

Crumple zone (zona benturan) adalah fitur keamanan struktural yang biasanya digunakan dalam mobil untuk menyerap energi yang berasal dari dampak tabrakan dengan mengendalikan deformasi. Ini adalah definisi dari Paul Dvorak, Ed Grabianowski, dan Plastic-cars.com.

Deformasi yang dimaksud adalah perubahan bentuk bodi kendaraan dari mulus menjadi berkerut atau ringsek. Ketika tabrakan terjadi, bagian depan kendaraan dirancang untuk mudah berkerut atau ringsek untuk meredam energi kinetik yang dihasilkan dari tabrakan itu sendiri sehingga penumpang yang berada di kabin kendaraan relatif lebih aman dari kecelakaan.

Crumple zone berfungsi menyerap energi saat tabrakan. Itu intinya.

Konsep crumple zone pertama kali diperkenalkan oleh Béla Barényi dan diterapkan pada Mercedes-Benz Fintail pada 1959. Setelah itu, konsep ini juga diterapkan pada kereta api, terutama pada kereta penumpang.

Selain Mercedes-Benz, Lamborgini juga menerapkan konsep crumple zone. Masih ingat peristiwa Lamborgini milik Hotman Paris Hutapea yang juga ringsek saat mengalami kecelakaan? Jadi, teori Pak Supir bahwa mobil Eropa lebih kuat daripada mobil Jepang ketika terjadi kecelakaan itu tidak benar, ya.

Ada banyak sekali keuntungan yang diberikan dari teknologi crumple zone. Pertama, tentu saja pengemudi dan penumpang yang ada di bagian depan bisa lebih selamat ketika terjadi benturan. Bila tadinya mereka mengalami gegar otak, patah kaki, hingga kematian, kini bisa jadi mereka hanya mengalami luka ringan seperti lecet dan keseleo.

Kedua, pejalan kaki yang menjadi korban kecelakaan juga mengalami cedera yang lebih ringan. Kaki mereka mungkin akan mengalami luka, namun tidak perlu hingga diamputasi. Namun tentu saja ini bergantung pada tingkat kecepatan mobil saat mengalami kecelakaan.

“Tapi mobil saya jadi rusak parah, dong? Harus ganti mesin, dong?”

Pilih mana hayo, ganti mesin atau ganti kaki?

Mesin masih bisa diganti. Bagaimana dengan nyawa? Apakah ada gantinya?

Kecelakaan adalah sesuatu yang tidak kita inginkan. Ada banyak sekali kerugian dan tidak ada pihak yang diuntungkan (selain pihak bengkel, tentu saja). Tapi kalau melihat risiko terburuknya, kehilangan nyawa diri sendiri dan orang-orang yang kita cintai, rasanya bodi mobil yang ringsek dan mesin yang hancur menjadi tidak ada apa-apanya.

Setuju?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *