Bagaimana Cara Mengerem Sepeda Motor yang Benar?

Salah satu penyebab banyak terjadi kecelakaan sepeda motor adalah ketidaktahuan orang tentang cara mengerem yang benar. Padahal, ini adalah teknik berkendara yang penting untuk dikuasai, Bro, meskipun terkesan remeh. Menguasai teknik mengerem yang benar sudah menghindarkan diri sendiri dan orang lain dari risiko kecelakaan, termasuk kehilangan nyawa di jalan. Lalu, bagaimana cara mengerem yang benar?

Rem pada sepeda motor terdiri dari rem depan dan rem belakang. Sayangnya, banyak orang hanya menggunakan satu rem; rem depan saja atau rem belakang saja. Padahal, masing-masing rem memiliki keterbatasan. Menggunakan rem depan saja atau rem belakang saja tidak menjamin keselamatan berkendara.

Kalau Bro termasuk orang yang hobi menggunakan rem depan, risikonya adalah motor gampang kehilangan keseimbangan dan akhirnya terjatuh. Pun demikian halnya jika rem belakang yang digunakan. Wah, ban motor bisa ngepot! Risiko tergelincir alias kepeleset pun tinggi.

Lalu, bagaimana cara mengerem sepeda motor yang benar?

Sesuaikan Porsi Pengereman

Tentunya dengan menggunakan kedua rem tersebut (depan-belakang) secara bersamaan, Bro. Namun, sesuaikan porsinya. Dalam trek datar, gunakan rem depan 50% dan rem belakang 50%. Saat tanjakan, rem depan 40% dan rem belakang 60%. Saat turunan, rem depan 60% dan rem belakang 40%.

Reduce vs. Stop

Pada dasarnya, Bro, rem berfungsi untuk mengurangi kecepatan hingga akhirnya berhenti. Sayangnya, banyak orang menganggap rem itu berfungsi untuk menghentikan kecepatan sehingga kendaraan berhenti. Ini mindset yang tidak benar, Bro. Bisa dilihat kan, bedanya? Mengurangi kecepatan dan menghentikan kecepatan jelas adalah dua hal yang berbeda.

Coba deh, baca ulang kalimat awal paragraf di atas sekali lagi. Kalau Bro jeli, akan terlihat perbedaan bahwa yang pertama (mengurangi kecepatan) akan lebih aman buat pengendara. Sebaliknya, yang kedua (menghentikan kecepatan) justru lebih berbahaya karena dapat membuat motor kehilangan traksi dan akhirnya mencelakakan pengendara.

contoh tidak benar, rawan jomblo akibat pacar tertabrak

Jarak Pengereman

Selain porsi, jarak pengereman juga hal yang wajib diperhatikan, Bro. Semakin kencang motor melaju, semakin jauh jarak yang dibutuhkan untuk mengerem.

Maka dari itu, pandangan harus jauh ke depan (dan dilarang keras ngelamun!) saat sedang mengendarai motor dalam kecepatan tinggi. Tujuannya, agar kalau menemui hambatan (lubang, polisi tidur, pantat truk, mbak-mbak cantik nan jomblo yang kebetulan melintas), Bro masih punya jarak yang cukup untuk melakukan pengereman yang smooth alias mulus.

Sebaliknya, kalau mau jarak pengereman yang pendek (baik karena kampas rem sudah tipis maupun nggak punya duit beli kampas rem yang baru), naik motornya santai aja, Bro. Nggak usah buru-buru. Tenang, kompeni belum datang! Hehehe.

Pokoknya, kecepatan berbanding lurus dengan jarak pengereman. Makin tinggi kecepatan, makin jauh jarak pengereman yang dibutuhkan. Sebaliknya, makin rendah kecepatan, semakin pendek jarak pengereman yang dibutuhkan.

Gunakan Jari Tengah! (dan Jari Manis)

Jari tengah kalau dipakai sendirian bisa bikin masalah, Bro! Jangan dibikin jomblo, lah. Gunakan jari tengah dan jari manis secara bersamaan untuk melakukan pengereman.

Kenapa harus jari tengah dan jari manis? Karena keduanya adalah jari yang paling panjang. (Pasti langsung dicek saat ini juga nih, hehehe). Kedua jari tersebut adalah yang paling efektif dalam menjangkau tuas rem, jadi keduanya adalah yang paling direkomendasikan.

Kalau Bro adalah pengguna motor pedal (moped) alias bebek atau motor sport, sebaiknya kaki cukup nangkring di footstep. Jangan dititip ke pedal rem. Pasalnya, ini bisa membuat tuas rem terus terinjak. Efeknya, rem bisa panas dan blong.

Beberapa hal di atas mungkin masih belum biasa Bro lakukan, ya? Tidak apa-apa, Bro. Yang penting mulai dibiasakan setelah membaca pengetahuan ini. Ingat, di manapun Bro berada, safety first!

Setuju?

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *